Indonesia telah mengukuhkan posisinya sebagai pusat gravitasi ekonomi digital di Asia Tenggara. Pertumbuhan jumlah startup dengan valuasi fantastis bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan cerminan dari adopsi teknologi yang masif di masyarakat. Memahami peta Unicorn dan Decacorn Indonesia sangatlah krusial bagi investor dan pelaku bisnis untuk melihat ke mana arah likuiditas pasar bergerak.
Di tengah dinamika ekonomi global yang menantang, beberapa perusahaan rintisan lokal berhasil mempertahankan statusnya, sementara yang lain harus berjuang melakukan efisiensi. Artikel ini akan membedah siapa saja raksasa digital yang masih berdiri tegak dan bagaimana mereka mengubah lanskap ekonomi kita.
Contents
- 1 Memahami Kasta Startup: Dari Unicorn hingga Hectocorn
- 2 Daftar Decacorn di Indonesia: Sang Penguasa Pasar
- 3 Deretan Unicorn Indonesia yang Terus Bertumbuh
- 4 Tabel Perbandingan Unicorn dan Decacorn Unggulan
- 5 Fenomena “Tech Winter” dan Seleksi Alam Startup
- 6 Opini Ahli: Bagaimana Masa Depan Startup Indonesia?
- 7 Kelebihan dan Kekurangan Berinvestasi di Sektor Startup
- 8 Kesimpulan (Verdict)
Memahami Kasta Startup: Dari Unicorn hingga Hectocorn
Sebelum masuk ke daftar spesifik, kita perlu menyamakan persepsi mengenai istilah-istilah valuasi ini. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Aileen Lee untuk menggambarkan kelangkaan startup yang berhasil mencapai nilai kapitalisasi pasar tertentu sebelum melantai di bursa saham (IPO).
- Unicorn: Startup dengan valuasi di atas US$1 miliar (sekitar Rp15,7 triliun).
- Decacorn: Startup dengan valuasi di atas US$10 miliar.
- Hectocorn: Startup dengan valuasi di atas US$100 miliar.
Di Indonesia, pergerakan status ini sangat dinamis. Penting bagi Anda untuk mengetahui apa itu unicorn dalam bisnis agar dapat membedakan mana perusahaan yang sekadar “bakar uang” dan mana yang memiliki model bisnis berkelanjutan.
Daftar Decacorn di Indonesia: Sang Penguasa Pasar
Hingga saat ini, Indonesia baru memiliki satu nama yang secara konsisten berada di level Decacorn, meskipun fluktuasi harga saham pasca-IPO seringkali memengaruhi persepsi publik terhadap valuasinya.
1. GoTo (Gojek Tokopedia)
GoTo merupakan hasil merger antara raksasa ride-hailing Gojek dan platform e-commerce Tokopedia. Sebagai Decacorn pertama dan terbesar di Indonesia, GoTo mencakup ekosistem yang sangat luas, mulai dari transportasi, pengiriman makanan, logistik, hingga layanan keuangan digital (GoTo Financial).
Meskipun saat ini Tokopedia telah menjalin kemitraan strategis (akuisisi mayoritas) dengan TikTok, entitas GoTo tetap menjadi simbol kekuatan ekosistem digital terintegrasi di tanah air. Fokus utama GoTo saat ini adalah mencapai profitabilitas (EBITDA yang disesuaikan positif) untuk menjaga kepercayaan investor di pasar modal.
Deretan Unicorn Indonesia yang Terus Bertumbuh
Setelah level Decacorn, Indonesia memiliki daftar panjang perusahaan yang masuk dalam kategori Unicorn. Sektor yang mendominasi sangat beragam, mulai dari fintech, e-commerce, hingga logistik. Mengetahui siapa saja startup lokal peraih unicorn memberikan gambaran sektor mana yang paling “basah” bagi para pemodal ventura (venture capital).
1. J&T Express (Logistik)
J&T Express bukan hanya penguasa pasar domestik, tetapi telah melakukan ekspansi agresif ke Asia Tenggara, China, hingga Timur Tengah. Keunggulan operasional dan kecepatan pengiriman menjadi kunci mereka tetap bertahan di tengah persaingan kurir yang berdarah-darah.
2. Traveloka (Lifestyle & Travel)
Sempat terdampak hebat oleh pandemi, Traveloka berhasil bangkit seiring pulihnya industri pariwisata. Mereka kini berevolusi dari sekadar aplikasi pemesanan tiket menjadi platform lifestyle yang menyediakan layanan finansial (Paylater) dan aktivitas gaya hidup.
3. Akulaku (Fintech)
Sebagai pemain utama di sektor pembiayaan digital dan perbankan neobank (melalui Bank Neo Commerce), Akulaku mendapatkan pendanaan besar dari grup raksasa seperti Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG). Ini membuktikan bahwa sektor perbankan digital masih menjadi primadona di mata investor asing.
4. Dana & OVO (Digital Payment)
Dua dompet digital ini telah menjadi infrastruktur dasar transaksi harian masyarakat Indonesia. Keberadaan mereka sangat vital dalam mendukung ekosistem cashless yang didorong oleh pemerintah melalui QRIS.
5. Blibli & Bukalapak (E-commerce)
Keduanya telah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bukalapak kini lebih fokus pada segmen O2O (Online-to-Offline) melalui Mitra Bukalapak, sementara Blibli mengandalkan ekosistem terintegrasi dengan tiket.com dan jaringan ritel fisik Ranch Market.
Tabel Perbandingan Unicorn dan Decacorn Unggulan
Berikut adalah ringkasan beberapa startup besar di Indonesia berdasarkan sektor dan statusnya:
| Nama Startup | Sektor Utama | Estimasi Valuasi | Status |
| GoTo | Ekosistem Digital | US$10 Miliar+ | Decacorn |
| J&T Express | Logistik | US$20 Miliar+ | Decacorn/Unicorn* |
| Traveloka | Travel & Leisure | US$3 Miliar+ | Unicorn |
| Akulaku | Fintech/Banking | US$2 Miliar+ | Unicorn |
| Dana | Fintech Payment | US$1 Miliar+ | Unicorn |
| Ajaib | Fintech Investasi | US$1 Miliar+ | Unicorn |
| Kopi Kenangan | F&B Retail | US$1 Miliar+ | Unicorn |
| Xendit | Payment Gateway | US$1 Miliar+ | Unicorn |
*Catatan: Valuasi dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan putaran pendanaan terbaru atau harga pasar saham.
Fenomena “Tech Winter” dan Seleksi Alam Startup
Kita tidak bisa membicarakan Unicorn tanpa membahas fenomena Tech Winter. Sejak tahun 2023 hingga 2025, aliran dana dari investor global cenderung lebih selektif. Tidak ada lagi era “bakar uang” demi pertumbuhan pengguna tanpa profitabilitas yang jelas.
Mengapa Valuasi Bisa Turun?
- Suku Bunga Tinggi: Suku bunga global yang tinggi membuat investor lebih memilih instrumen investasi yang lebih aman daripada startup berisiko tinggi.
- Fokus ke Profitabilitas: Investor kini menuntut path to profitability. Startup yang tidak bisa membuktikan model bisnisnya menghasilkan laba akan kesulitan mendapatkan pendanaan lanjutan (down round).
- Efisiensi Operasional: Kita melihat banyak aksi PHK massal di perusahaan Unicorn. Ini adalah upaya untuk memperpanjang runway (napas keuangan) perusahaan.
Opini Ahli: Bagaimana Masa Depan Startup Indonesia?
Sebagai pengamat investasi di jakartainvest.id, saya melihat bahwa era pertumbuhan eksplosif telah bergeser menjadi era pertumbuhan berkualitas. Indonesia tetap menjadi pasar yang menarik karena memiliki bonus demografi dan penetrasi internet yang belum mencapai titik jenuh di kota-kota tier 2 dan 3.
Tips bagi Investor dan Pelaku Bisnis:
- Perhatikan Fundamental: Jangan hanya silau dengan label “Unicorn”. Lihat bagaimana unit ekonomi mereka bekerja. Apakah biaya akuisisi pelanggan (CAC) lebih kecil dari Lifetime Value (LTV) mereka?
- Sektor yang Menjanjikan: Sektor Green Tech (Energi Terbarukan), HealthTech, dan AgriTech diprediksi akan menjadi sarang Unicorn baru di masa depan karena relevansinya dengan isu global.
- Adopsi AI: Startup yang berhasil mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI) untuk efisiensi operasional akan memiliki nilai tawar lebih tinggi di mata investor.
Kelebihan dan Kekurangan Berinvestasi di Sektor Startup
Bagi Anda yang tertarik masuk ke ekosistem ini, baik melalui saham publik (IPO) maupun pendanaan privat, berikut analisisnya:
Kelebihan:
- Potensi Pertumbuhan Eksponensial: Jika startup berhasil dominan, kenaikan valuasinya bisa berlipat-lipat dibandingkan bisnis konvensional.
- Inovasi Tanpa Batas: Startup seringkali menciptakan pasar baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.
- Efisiensi Teknologi: Penggunaan teknologi membuat skala bisnis bisa diperbesar dengan biaya marjinal yang rendah.
Kekurangan:
- Risiko Tinggi: Statistik menunjukkan mayoritas startup gagal di 5 tahun pertama.
- Likuiditas Rendah: Sebelum IPO, sulit bagi investor awal untuk menarik kembali modalnya (exit).
- Volatilitas Tinggi: Sentimen pasar terhadap sektor teknologi sangat sensitif terhadap isu ekonomi makro.
Kesimpulan (Verdict)
Ekosistem Unicorn dan Decacorn Indonesia kini sedang memasuki fase pendewasaan. Jumlah startup yang mencapai status Unicorn mungkin tidak secepat beberapa tahun lalu, namun perusahaan yang ada saat ini jauh lebih tangguh secara fundamental. GoTo tetap memimpin sebagai Decacorn, diikuti oleh barisan Unicorn kuat seperti J&T, Traveloka, dan Akulaku.
Bagi para pengamat dan pelaku ekonomi di Jakarta, memantau pergerakan raksasa digital ini adalah kewajiban untuk memahami arah ekonomi digital Indonesia di masa depan. Fokus pada keberlanjutan bisnis dan inovasi teknologi akan menjadi pembeda antara mereka yang bertahan dan mereka yang tumbang.

