Skip to main content

Ketika orang membicarakan bisnis kesehatan di Indonesia, perhatian biasanya tertuju pada rumah sakit, klinik, atau aplikasi kesehatan. Padahal semuanya tidak bisa berjalan tanpa pasokan obat dan alat kesehatan yang lancar. Pasokan itu bergantung pada distributor berizin, dan salah satunya, yang berbasis di Sidoarjo, Jawa Timur, dipimpin oleh apoteker Wiendah Hamidah, Direktur PT Imar Karya Tama.

Ringkasan
  • PT Imar Karya Tama beroperasi sejak 2016, dimulai dengan tim tiga orang.
  • Kini perusahaan memiliki 25 orang dan memasok obat ke hampir seluruh wilayah Indonesia.
  • Pelanggannya antara lain Kementerian Kesehatan, rumah sakit pemerintah, serta dinas kesehatan kabupaten dan kota.
  • Memegang sertifikat Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) dan Cara Distribusi Alat Kesehatan yang Baik (CDAKB) yang berlaku hingga 2029.

Bisnis di Mata Rantai Terakhir Layanan Kesehatan

Indonesia adalah negara kepulauan dengan ribuan pulau, sehingga mengantarkan obat yang tepat ke rumah sakit yang tepat dan tepat waktu adalah tantangan logistik yang serius. Rumah sakit dan dinas kesehatan mengandalkan Pedagang Besar Farmasi (PBF) untuk membeli, menyimpan, dan mengirimkan kebutuhan mereka sesuai aturan yang ketat.

PT Imar Karya Tama adalah salah satu PBF berizin tersebut. Menurut profil perusahaannya, PT Imar Karya Tama mendistribusikan sediaan farmasi, suplemen makanan, obat bebas (OTC), obat generik, bahan medis habis pakai, serta alat kesehatan skala kecil maupun besar. Kantor dan gudangnya berada di The Royal Crown Palace, Waru, Sidoarjo, tidak jauh dari Surabaya yang menjadi salah satu pusat perdagangan utama Indonesia.

Bagi pelaku usaha, ini adalah pasar dengan permintaan yang stabil. Masyarakat membutuhkan obat di setiap musim, dan anggaran kesehatan pemerintah dibelanjakan untuk kebutuhan medis setiap tahun. Namun ini juga pasar di mana kepercayaan dan kepatuhan pada regulasi lebih menentukan daripada harga semata.

Wiendah Hamidah dari PT Imar Karya Tama berjabat tangan seusai pertemuan bisnis
Jabat tangan seusai pertemuan bisnis di PT Imar Karya Tama. Kemitraan jangka panjang menjadi inti misi perusahaan.

Mulai dari Kecil, Tumbuh dengan Mantap

PT Imar Karya Tama mulai beroperasi pada 2016 dengan hanya tiga orang. Kini timnya telah berkembang menjadi 25 orang. Wiendah Hamidah menggambarkan perannya dengan lugas: sebagai direktur, dialah yang menjalankan semuanya.

Gaya kepemimpinan yang turun langsung seperti ini lazim ditemui pada pendiri usaha kecil dan menengah yang berhasil di Indonesia. Dengan tim yang ramping, direktur tetap dekat dengan pelanggan, pemasok, dan regulator, sehingga keputusan bisa diambil dengan cepat. Itu juga berarti reputasi perusahaan sangat lekat dengan sosok yang memimpinnya.

  • 2016: PT Imar Karya Tama mulai beroperasi dengan tim tiga orang.
  • 2020–2021: Pelanggan meluas ke rumah sakit pemerintah dan dinas kesehatan dari Jawa hingga Sumatra, Sulawesi, dan Papua.
  • 2022: Tim berkumpul di Surabaya untuk Annual Meeting dan Shareholder Meeting perusahaan.
  • 2024: Perusahaan memperoleh sertifikat CDOB untuk obat dan CDAKB untuk alat kesehatan.
  • 2025: Pelanggan mencakup Kementerian Kesehatan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta puluhan rumah sakit.
  • 2026: Tim telah mencapai 25 orang.
Wiendah Hamidah dan tim PT Imar Karya Tama pada Annual Meeting dan Shareholder Meeting 2022 di Surabaya
Tim PT Imar Karya Tama pada Annual Meeting dan Shareholder Meeting perusahaan, 22–23 Januari 2022, Surabaya.

Izin sebagai Keunggulan Bersaing

Dalam distribusi farmasi, izin bukan sekadar urusan administrasi. Izin adalah tiket masuk ke pasar. Rumah sakit dan instansi pemerintah hanya dapat bekerja sama dengan distributor yang memenuhi standar nasional, dan standar itu diperiksa melalui audit.

PT Imar Karya Tama memegang izin Pedagang Besar Farmasi yang mencantumkan Wiendah Hamidah, S.Si., Apt. sebagai direktur dan berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. Pada Januari 2024 perusahaan memperoleh sertifikat Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) yang diterbitkan atas nama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Pada Agustus 2024 perusahaan juga memperoleh sertifikat Cara Distribusi Alat Kesehatan yang Baik (CDAKB), yang mencakup alat kesehatan elektromedik non-radiasi, alat kesehatan non-elektromedik steril dan non-steril, serta produk diagnostik in vitro. Kedua sertifikat berlaku hingga 2029.

Untuk meraih sertifikat ini, perusahaan harus memiliki pedoman mutu, melaksanakan audit internal dan tinjauan manajemen, serta lolos audit menyeluruh terhadap sarana distribusinya. Bagi tim berjumlah 25 orang, ini adalah investasi waktu dan disiplin yang besar. Sekaligus, ini menjadi penghalang yang melindungi bisnis, karena pendatang baru tidak bisa menirunya dengan mudah.

Dipercaya Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan

Tanda paling jelas dari kredibilitas sebuah distributor adalah siapa yang membeli darinya. Daftar pelanggan PT Imar Karya Tama periode 2020 hingga 2025 mencakup Kementerian Kesehatan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Daftar itu juga memuat rumah sakit pemerintah ternama seperti RSUD Dr. Soetomo Surabaya, RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, dan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.

Yang tidak kalah penting adalah deretan dinas kesehatan kabupaten dan kota, dari Aceh Utara dan Nias di barat hingga Sorong, Paniai, dan Maluku di timur. Banyak pelanggan, seperti RSD Madani Pekanbaru serta Dinas Kesehatan Jombang, Magetan, dan Mojokerto, muncul dari tahun ke tahun. Di pasar di mana setiap pembelian harus dipertanggungjawabkan, pesanan berulang adalah bentuk kepercayaan yang kuat.

Wiendah Hamidah dari PT Imar Karya Tama dalam pertemuan dengan mitra di sebuah kantor
Bertemu langsung dengan mitra adalah bagian dari cara PT Imar Karya Tama membangun kepercayaan pelanggan.

Pendekatan Seorang Apoteker dalam Berbisnis

Wiendah Hamidah adalah seorang apoteker, sebagaimana tercermin dari gelarnya, S.Si., Apt. Latar belakang ini memberinya pemahaman mengapa kondisi penyimpanan, dokumentasi, dan mutu produk sangat penting, bukan hanya sebagai aturan yang harus dipatuhi, tetapi sebagai bagian dari menjaga keselamatan pasien.

Hal itu tercermin dalam nilai-nilai perusahaan: integritas, profesionalisme, kualitas, kolaborasi, inovasi, dan keberlanjutan. Perusahaan juga menyatakan memanfaatkan sistem informasi digital untuk mengintegrasikan setiap aspek operasional distribusinya dan menerapkan prosedur operasional berstandar internasional.

Pelajaran bagi Pelaku Usaha

Kisah Wiendah Hamidah dan PT Imar Karya Tama memberikan beberapa pelajaran bagi pengusaha dan investor yang tertarik pada sektor kesehatan Indonesia:

  • Pasar yang diatur ketat menghargai kesabaran. Izin dan sertifikasi butuh waktu untuk diraih, tetapi menciptakan keunggulan yang bertahan lama.
  • Tim kecil bisa melayani negara yang besar. Dengan 25 orang dan sistem yang baik, perusahaan menjangkau pelanggan di seluruh Nusantara.
  • Kepercayaan sektor publik dibangun pesanan demi pesanan. Pelanggan berulang di antara rumah sakit dan dinas kesehatan menunjukkan rekam jejak yang kuat.
  • Keahlian di pucuk pimpinan itu penting. Apoteker yang memimpin bisnis distribusi membawa standar profesi ke dalam keputusan bisnis.
Dari tim tiga orang pada 2016 hingga menjadi distributor bersertifikat yang dipercaya rumah sakit dan dinas kesehatan di seluruh Indonesia, perjalanan Wiendah Hamidah menunjukkan bagaimana kepemimpinan yang tekun dapat membangun bisnis kesehatan yang kredibel.

Seiring upaya Indonesia memperkuat sistem kesehatannya, distributor yang andal akan tetap dibutuhkan. Di bawah kepemimpinan Wiendah Hamidah, PT Imar Karya Tama siap terus menjalankan peran itu, memastikan obat dan alat kesehatan sampai kepada mereka yang membutuhkannya.

Sumber: informasi dari Wiendah Hamidah dan Company Profile PT Imar Karya Tama (Januari 2026). Informasi lebih lanjut tentang perusahaan tersedia di situs resmi imarkaryatama.com.